Setelah tiga tahun pernikahan yang bahagia bersama Atsushi—pria pekerja keras yang setia dan lembut—kebahagiaan Hina terus diuji oleh ayah mertuanya yang terlalu dominan. Sementara Atsushi bekerja keras berjam-jam untuk menafkahi mereka berdua bahkan menghemat uang sakunya demi mendukung kebiasaan berjudi ayahnya di sirkus balap,
Pak Nitori menolak bekerja dari rumah; ia malah asyik maraton menonton balapan lewat ponselnya. Akhirnya mencapai batas kesabarannya terhadap tuntutan finansial dan kemalasannya yang tiada henti,
Hina memutuskan untuk menghadapinya secara langsung. Entah karena pengaruh alkohol atau kejengkelan murni atas perilakunya (atau mungkin kerinduan terpendam akan tubuhnya yang memukau!), sang ayah mertua yang berpostur besar itu menindih Hina dan mulai menghantamnya dengan agresif.